Angin dari puncak gunung meniup lebat rambut sesemakan. Terdengar bunyi gerisik renyah. Helai-helai kering daun dan kelopak bunga putus, terbang melayang tanpa beban ke dalam lembah. Lembah yang amat luas, dipenuhi kabut putih seperti hamparan selimut, lebih lembut dari kapas, lebih dingin dari embun pagi.

Lembah Gunung Nirbuah selalu diawani kabut. Di hari yang cerah, bila kita berdiri di sisi tebingnya, mudah saja mempercayai kita bisa melompat ke dalam hamparan putih keabuan itu, untuk mengapung seperti kayu dan berenang ke sana kemari, seperti seekor koi di tempayak penuh rumpun dan batu-batu berlumut.

Namun ketika hujan turun menghapus kabut, tampaklah dasar lembah itu. Jaraknya, bila diintip dari tepi dinding tebing lembah, hampir lima kali tinggi pohon cemara yang berusia setengah abad. Landak yang paling rabun (dan pikun) sekalipun akan menghindari berkeliaran jauh-jauh di tepian tebing. Apalagi berjalan di jalan setapak, yang berada setingkat di bawah tepian tebing. Setapak itu menjorok keluar, membentuk birai alam yang sempit dan kokoh. Bahkan tanah sekalipun enggan bergerak, takut membayangkan dirinya bakal tergerus dan longsor saat dirinya menyangga kuat-kuat jalan setapak itu.

Tapi ada satu makhluk yang berani berjalan di setapak itu.

Makhluk itu bukanlah beruang, sang pemburu terkuat di Gunung Nirbuah. Bukan pula kambing gunung, yang langkahnya cekatan dan mantap pijakannya. Bukan pula terwelu, yang nakal dan selalu penasaran, lincah dan mampu memperdaya jebakan yang dipasang untuk menangkapnya. Dan makhluk itu bukan pula seekor semut, karena tempat itu terlalu berangin, semut-semut tahu mereka dapat terhempas dan terpisah -sangat- lama dari kawanannya.

Lihatlah, yang menapaki setapak itu: seorang anak kecil.

Seorang anak gadis kecil, lebih tepatnya. Ia memakai mantel bulu kambing sebagai pelindung badan dari angin, dan sepatu ayaman jerami yang kasar di luar, tapi lembut di dalam oleh sulaman bulu domba, sebagai pelindung kaki dari bebatuan tajam, dan salju tipis yang dingin membekukan kulit.

Bicara soal kaki: sebenarnya kaki si gadis kecil lebih kecil dari batang pohon plum, dan tampak serapuh tungkai laba-laba. Tapi ia bisa menapak tanpa kesulitan, jauh lebih mantap dari tupai yang melompat-lompat di dahan-dahan pohon kenari. Sepatu jeraminya menolongnya agar tak terpeleset gundukan putih salju, yang dalam minggu pertama musim semi, mulai mencair secepat ular yang kekenyangan merayap pulang ke liang lahatnya.

Tapi tak ada jaminan pijakannya tidak terpeleset, dan membuat dirinya terjatuh ke jurang. Ia bisa saja menginjak tanah yang tak lagi padat, atau bertumpu di batu licin yang tak kuat lagi menopang beban, atau sekedar tersandung tonjolan akar-akar yang tebal dan berlapiskan es tebal. Apalagi jalan setapak itu hanya selebar satu langkah kaki orang dewasa. Apa yang bisa menjamin dinding-dinding tanah di sebelahnya tidak rontok dan menimbunnya hidup-hidup?

Gadis itu tahu resikonya, tapi ia terus berjalan; dengan cepat dan cekatan, seolah ia tahu mana jalan yang sebaiknya ia tapaki dan tidak tapaki. Tampak jelas ia mengenal baik setapak itu, sebaik ia tahu di mana kedua matanya bisa ditemukan di wajahnya.

Mendadak langkahnya terhenti. Gadis itu menengadah. Batu besar menjulang di hadapannya: separo badan tertimbun dalam dinding lembah; menonjol keluar seperti tanduk kambing; menghadang tegas layaknya tembok istana kerajaan.

Jalan setapak itu telah habis, dan gadis itu tak bisa terus lagi.

Namun rupanya ia memang tak berniat terus. Gadis itu merogoh ke dalam mantelnya, dan mengeluarkan sebuah bungkusan. Ia membukanya pelan-pelan, menampakkan sebuah kue berbentuk ikan mas koki (yang tampak amat mirip dengan ikan aslinya, hanya saja tidak licin dan berlendir), sebesar kepalan tangan orang dewasa. Gadis itu menaruh kue beserta bungkusannya di bawah batu, berhati-hati agar isinya tidak jatuh menggelinding, tepat di tanah yang penuh pasir dan lumpur.

Lalu gadis itu mengeluarkan sebuah bingkisan lain, membukanya. Isinya kue lain, hanya ukurannya sebesar jeruk, dan bentuknya bulat polos, tanpa lekuk bentukan apapun di permukaannya yang tebal dan empuk.

Gadis itu duduk di tanah, bersender di dinding tebing. Menunggu.

Terdengar suara gesek tajam. Senyum si gadis merekah. Ia berpaling, menatap puncak batu karang. Di sana, balas menatap, tampak sepasang mata besar: oval hitam dan lingkar hijau, warna dari rumput dan tanah yang subur.

Kepala makhluk itu bergerak naik; naik, naik, dan semakin naik. Gadis itu harus menghalangi pandangan dengan satu tangan, silau oleh bias matahari di balik kepala makhluk itu. Sosok itu menunjukkan makhluk yang tinggi, bersisik, dan bertanduk cabang seperti seekor rusa jantan. Bentuk kepalanya, setelah dilihat-lihat, agak seperti kuda; hanya saja kuda tidak berkumis, apalagi kumis serupa sulur tanaman rambat: tebal, liat, dan hanya tumbuh sepasang tepat di bawah hidung.

Si gadis kecil memanggil, dengan sebutan kaumnya untuk makhluk itu: Naga.

Naga menggerung pelan, kedua kaki depannya memijak permukaan karang, lalu ia melompat ke tanah, dengan cepat dan semulus kucing. Tapi pijakannya jadi agak goyah, ketika mengetahui kaki kirinya nyaris menggepengkan kue ikan mas koki dari si gadis kecil.

Naga menggerung lagi, dan gadis itu mengerti. Ia mengambil kue itu, lalu pindah duduk beberapa langkah, hingga sampai di tepian jalan setapak yang agak sempit. Kini, bila ia berselonjor, ia bisa menurunkan kedua kakinya dan mengayun-ayunkannya seperti seekor kucing mengayun-ayunkan ekornya. Tapi ia tahu, ada kemungkinan ia bakal terpeleset dan tergelincir ke jurang kalau ia melakukannya. Maka gadis itu duduk merapat, dengan lutut sejajar dagu. Mantelnya jadi agak sesak dan membuatnya tak nyaman, tapi ia hanya sedikit ambil peduli soal itu.

Ia menoleh dan melihat Naga duduk menggelung di sampingnya: sangat besar, sangat tinggi. Tubuhnya penuh sisik-sisik merah semburat kehijauan, dan bercakar tajam di keempat kakinya yang besar dan bersurai lebat. Naga mengayunkan kepalanya, memandang kue ikan mas koki di samping kaki si gadis kecil.

Mendongak, si gadis kecil tersenyum, dan Naga menarik sudut bibirnya. Bisa kita artikan, naga itu sedang balas tersenyum, walau yang ditampakkannya adalah taring-taring tajam yang tampaknya mampu merobek batang cemara sampai patah.

Si gadis kecil dan Naga mengalihkan pandangan, dan sama-sama melahap kue masing-masing. Si gadis kecil membutuhkan lima sampai enam suapan hingga santapannya tandas, sementara Naga telah menelan santapannya bulat-bulat pada suapan pertama. Sebenarnya ia masih lapar, tapi Naga bersikap seakan perutnya telah kenyang. Nanti ia bisa mencari makanan lain untuk memuaskan sisa laparnya.

Selesai makan, si gadis kecil mengelap tangan pada jerami sepatunya sampai bersih. Ia merogoh lagi ke balik mantel, kali ini mengeluarkan sebatang suling bambu. Mata Naga berbinar senang. Ia membaringkan kepala, dan menutup mata; suling itu membunyikan melodi pertama, bergaung ke seluruh lembah yang berkabut.

Gaung itu melintasi lembah. Menusuk puncak gunung, menyerbu padang-padang rumput, menampar permukaan danau. Merambat ke seluruh Nirbuah.

Nada berpadu dan saling menimpali, menceritakan kisah-kisah tanpa kata-kata. Alunan yang penuh nada pendek dan riang menceritakan permainan berudu dan anak ikan yang belajar berenang dalam kolam-kolam dangkal. Alunan yang lembut dan mendayu-dayu menceritakan kesedihan semak dan pepohonan yang ranggas di musim gugur. Sementara alunan yang tenang, bernada panjang dan sedikit sedih menceritakan angin pagi yang merindukan rembulan dan bintang-bintang tengah malam.

Saat akhirnya semua alunan selesai dimainkan, langit telah mewarna lembayung. Senja ungu kemerahan datang. Di samping puncak Nirbuah, muncul sebuah rembulan penuh.

Si gadis kecil berdiri perlahan dan menyimpan suling bambunya. Naga membuka mata, berpaling, dan melihat sahabat kecilnya menunjuk rembulan yang bulat putih itu.

Saatnya telah tiba.

Naga berdiri, lalu merundukkan kepala, membiarkan si gadis kecil memanjat ke atasnya dan duduk sambil mencengkram rambutnya. Ia agak goyah, tapi keseimbangannya terjaga tepat waktunya, ketika Naga melompat dan terjun langsung ke dasar lembah.

Terpaan angin terasa seperti hamburan air terjun di wajah si gadis kecil. Tebing melesat di bawahnya; hamparan kabut menghadang di depannya. Mereka menembusnya, dan hutan menghampar. Mereka meluncur sangat cepat; lebih cepat daripada tetes hujan dari langit, dan lebih besar ribuan kali lipat. Bila mereka menghantam permukaan tanah, pasti tubuh mereka akan tercerai-berai seperti buah kelewat masak yang tangkainya copot dari bawah batang pohon.

Mendadak dalam satu desahan nafas, perut si gadis terasa terjungkir balik. Ia mempererat cengkraman, dan menutup rapat matanya. Ketika ia kembali membukanya, terbentang barisan bukit-bukit yang telah lama dikenalnya sejak ia lahir. Pemandangan itu temaram, namun tampak jelas di bawah sinar bulan yang semakin cerah. Naga terbang meliuk-liuk di atas hamparan pepohonan, melayang mengendarai angin, meluncur menembus senja temaram di langit Nirbuah.

Si gadis kecil menunjuk tempat, Naga mengikuti arahannya. Mereka terbang semakin cepat, dan kini tampak sebuah telaga besar. Telaga itu gelap dan dalam dan lebar, terletak tinggi di atas tebing. Tempat yang mustahil dicapai tanpa sayap, karena itu, agaklah aneh, melihat tempat itu penuh oleh orang-orang dewasa.

Mereka tidak ketakutan melihat kedatangan Naga. Malah mereka segera berseru-seru gembira, dan menunjuk-nunjuk ke dalam telaga.

Tolonglah, temui Kakek Rembulan!

Cepatlah, sadarkan Kakek Rembulan!

Naga mendarat, membiarkan si gadis kecil turun dari punggungnya. Beberapa dari mereka berlari mendekat, lalu menyambut si gadis kecil.

Kau berhasil!

Kau berhasil memanggil sang pelindung gunung!

Kau berhasil memanggil salah satu dari yang amat tua!

Kau berhasil memanggil Sang Naga!

Si gadis tak menjawab. Ia diam saja, sambil mengikuti orang-orang klannya menjauh dari tepi telaga.

Naga bersiap-siap. Ia mundur selangkah, selangkah lagi…dan melompat ke bawah tebing. Sekejap kemudian ia melesat, meninggalkan mereka ke ketinggian. Begitu tinggi, hingga bayangannya tampak tak lebih besar daripada bintang-bintang…dan mendadak ia menukik tajam seperti kerikil yang tersepak jatuh dari ujung jurang. Naga menghujam permukaan telaga dengan keras, hingga mencipratkan air setinggi atap rumah ke segala arah.

Semua orang menunggu…dan menunggu. Si gadis kecil tampak amat khawatir. Ia mungkin telah mengirim sahabatnya ke dalam celaka. Kakek Rembulan kini ganas dan tak mengenal ampun. Bagaimana kalau Kakek Rembulan sampai membunuh Naga?

Di dalam telaga, Naga mencari-cari.

Ekornya mendayung, kakinya mengayuh, matanya mengawasi. Ototnya tegang, cakar-cakarnya melengkung tajam. Naga berenang semakin dalam dan semakin dalam ke tengah telaga…lalu ia melihatnya. Kakek Rembulan.

Kumisnya tebal, panjang dan kaku. Riak-riak cahaya menari samar di permukaan kulitnya yang licin dan hitam legam. Besar kepalanya hampir selebar bentangan tanduk Naga. Di kegelapan ini, dalam kedalaman ini, Kakek Rembulan tampak mengerikan. Seperti intai-intai di mimpi-mimpi buruk, dan segala sesuatu yang mengintip diam-diam dari balik bayang-bayang di malam hari.

Kakek Rembulan berhenti, mengawasi. Matanya buta, tapi sungutnya memberitahu. Ada hewan asing di telaga. Ada pencemar di telaga. Harus mengusirnya. Harus memusnahkannya.

Ia membuka rahangnya lebar-lebar, menampakkan kegelapan yang menghisap: gua yang lembab, gelap, dan hampa. Menarik hewan kecil masuk ke dalam perutnya, untuk hilang, tak pernah keluar lagi.

Kakek Rembulan berbelok, menyergap secepat kilat menyambar. Naga berkelok, berhasil menghindar. Ia menyeringai, menampilkan taring-taring tajam dan keras, siap melawan, walau mungkin nyawanya akan habis di dasar telaga ini.

Di permukaan, orang-orang menanti. Cemas.

Kakek Rembulan, begitulah mereka memanggilnya. Makhluk yang sangat tua, dan telah hidup di dasar telaga Nirbuah sejak ratusan tahun lalu. Kakek Rembulan adalah makhluk yang kalem. Tapi begitu malam purnama tiba, penyakitnya kambuh. Penyakit yang merusak ingatan, menggantinya jadi rasa sakit yang luar biasa. Kakek Rembulan akan lupa semuanya: teman-temannya, sahabatnya, telaganya; dan mengamuk membabi buta.

Kakek rembulan akan mengaduk-aduk lumpur di dasar telaga, menghancurkan hunian para penghuni telaga. Ia akan menabrakkan dirinya pada dinding karang, merontokkan batu-batu besar, mengubur rumput-rumput air  yang lebat dan subur. Ia akan menyerang dan merusak, tak pandang bulu pada benda, atau makhluk apa saja yang ditemuinya.

Orang-orang di tepi telaga -bangsa si gadis kecil- biasanya selalu berhasil menjaga amukan Kakek Rembulan agar tak melebihi batas. Tapi terkadang, ada saat-saat mereka tak mampu menghadapi amukan si Kakek Rembulan.

Kalau Kakek Purnama sampai terluka, darahnya akan meracuni telaga. Seluruh penghuni telaga akan mati, dan telaga yang teracuni akan perlahan membunuhi seisi Nirbuah. Pada saat-saat tak teratasi seperti inilah mereka akan meminta si gadis kecil mendatangi Naga. Memberinya persembahan, memintanya untuk menolong mereka.

Maka mereka terus menunggu. Menunggu hingga telaga itu berhenti beriak-riak.

Mendadak, permukaan telaga pecah. Sesosok hitam raksasa melompat keluar telaga. Semua orang terkesiap. Itu adalah Naga, membawa Kakek Rembulan dalam lilitan tubuhnya yang panjang!

Mereka jatuh berdebum ke tanah. Kakek Rembulan meronta-ronta murka, hendak melepaskan diri dan menampari si penangkapnya. Naga bertahan sekuat tenaga, tapi ia sudah di ambang batas. Kakek Rembulan tak mau diam, tak terima dirinya berhasil di bawa keluar telaga, hendak menghabisi si pencemar telaga, walaupun akibatnya ia akan mati kehabisan nafas.

Dalam kekalutan itu, si gadis kecil segera bertindak. Ia meraih suling bambunya, dan meniupkan sebuah lagu. Kakek Rembulan berhenti menggeliat-geliat, dan mendengarkan melodi si gadis kecil. Ia melantunkan sebuah lagu kuno: tentang buluh-buluh, gumaman kodok dan katak, kura-kura yang lamban dan sabar, gua-gua gelap dalam kegelapan, ular-ular air yang pemalu, dan keharmonisan hidup ratusan jenis ikan di dasar telaga. Tentang siklus hidup yang tak mengenal awal dan akhir di alam air.

Kakek Rembulan semakin tenang, tak lagi menggeliat-geliat. Naga melepas lilitannya, dan melangkah menjauh dari Kakek Rembulan.

Ingatan kakek Rembulan kembali. Ia ingat karang kesukaannya saat ia ingin berteduh dan beristirahat. Ia ingat ketika ikan-ikan muda yang ingin tahu mematuki kulitnya. Ia ingat saat-saat matahari begitu cerah, dan ia bisa merasakan panasnya di permukaan telaga.

Ia bisa mengingat kembali rumahnya. Telaga itu, dan semua penghuninya.

Naga mendekat dan menyentuhnya. Kakek Rembulan terdiam, sungutnya bergerak-gerak. Mata buta kakek Rembulan tak bisa melihat, tapi ia ingat Naga. Sahabat lamanya. Sesama penjaga kedua alam hidup di Nirbuah.

Kakek Rembulan tak bisa tersenyum, karena mulutnya keras dan hanya bisa megap-megap mengambil udara. Lagipula, tak mungkin kita membayangkan seekor ikan lele tersenyum, bukan? Mungkin ia tidak bisa secara harafiah, tapi hatinya bisa tersenyum, dan semua orang di tepi telaga bisa merasakannya. Mereka akhirnya tahu kalau Kakek Rembulan telah kembali pada mereka.

Mengeluarkannya dari air itu perkara sulit, tapi terbukti bisa dilakukan. Namun mengembalikannya, ternyata jauh lebih sulit. Naga kehabisan tenaga, dan tak sanggup mengangkatnya kembali ke telaga. Untunglah ia tak sendirian (lagipula, Kakek Rembulan tak suka memikirkan dirinya harus terbang sekali lagi). Semua orang klan bergabung dalam aksi pengembalian si Kakek Rembulan ke dalam telaga. Perlu usaha besar, seruan-seruan ramai, dan banyak sekali yang basah kuyup dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Tapi semua puas dengan hasilnya. Kakek rembulan telah kembali dalam telaga. Kehidupan akan tenang kembali…setidaknya sampai bulan purnama berikutnya.

Semua orang di tepi telaga menghadap Naga, dan memberikan persembahan rasa terima kasih mereka. Mereka mengobati luka-luka Naga, dan menyajikan makanan dalam jumlah banyak ke hadapannya. Naga kewalahan, dan merasa lega ketika seseorang mengatakan fajar hampir tiba. Kalau diminta memakan habis semua hidangan itu, bisa-bisa perutnya keberatan, dan ia takkan bisa terbang pulang ke rumahnya kembali.

Sebelum fajar merekah, Naga memberi berkahnya pada semua orang di sana. Ia mencabut satu sisiknya, lalu menaruhnya di atas permukaan air. Sisik itu memantulkan seisi langit, sekaligus dasar telaga. Sisik itu akan terus mengapung, sampai angin dan arus menenggelamkannya ke dasar telaga. Itu adalah janji bahwa ia akan terus menjaga gunung ini, sampai bulan tak lagi akan tampak di langit, dan telaga itu akhirnya mengering habis.

Bulan hampir menyelinap ke tepi dunia. Semua orang bersiap-siap pulang. Mereka semua berkumpul di tepi telaga, memberikan salam terakhir pada Naga, dan pada saat bersamaan ketika bulan menghilang, mereka melompat ke dalam telaga.

Namun alih-alih terdengar suara tercebur yang keras, hanya terdengar ciplukan-ciplukan kecil, seperti ikan yang melompat lalu menyelam masuk dalam air.

Karena memang itulah yang terjadi. Naga memandangi tepi telaga, di mana puluhan penghuni telaga balas memandanginya. Beraneka ragam, berwarna-warni: salem, belut, semah, tawes, grasscarp. Ada juga kura-kura, ular air, kepiting, keong, udang, sampai berbagai jenis serangga air.

Mereka berputar-putar sejenak, sebelum berenang masuk ke dalam telaga, (atau untuk sebagian di antaranya, melangkah di atas telaga). Waktu untuk hidup di darat sudah habis. Saatnya kembali ke alam asal mereka, ke dalam telaga, ke dalam air.

Tinggal satu yang tersisa. Si gadis kecil dengan suling bambunya.

Waktunya tinggal sedikit lagi. Ia menyorongkan suling bambunya kepada Naga. Simpanlah, dan jagalah sampai saat aku menemuimu lagi nanti, dan memainkan suling ini kembali. Naga mengangguk, mengambilnya perlahan. Ia hati-hati menggigitnya, agar suling itu tak patah menjadi sepasang sumpit bambu.

Saat itu fajar merekah dari tepi hutan.

Si gadis berbalik, dan melompat ke dalam telaga. Sama, tak terdengar suara ceburan keras. Naga mengintip, dan melihat seekor ikan mas koki kecil berenang lincah ke sana kemari. Ketika Naga lebih mendekatinya, mendadak si ikan kecil mencipratkan air ke wajah sang naga. Ikan kecil itu mengeluarkan gelembung-gelembung udara dari mulutnya, lalu berenang miring, melambaikan sebelah siripnya ke atas permukaan air. Mungkin itu adalah sebuah lambaian perpisahan, dan mungkin juga, ikan kecil itu juga tertawa pada sahabatnya.

Ikan kecil itu berbalik cepat, menghilang masuk ke kedalaman telaga.

Naga menghadap fajar, mencium wangi fajar dan angin pagi, sebelum melompat ke bawah tebing, terbang kembali ke puncak gunung.

Naga harus menunggu satu bulan lagi sampai ia bisa mendengarkan nada-nada dari suling si gadis mas koki lagi. Sebaliknya, si gadis mas koki harus menunggu satu bulan lagi, untuk bisa kembali menjumpai sahabatnya.

Tapi yang terpenting, mereka tahu bahwa mereka akan saling bertemu kembali. Bahwa satu sama lain, takkan saling mengingkari janji yang mereka buat satu sama lain.

Satu bulan lagi, di hadapan lembah berkabut, di atas jalan setapak, di puncak Gunung Nirbuah.

Tempat di mana gunung berjumpa rembulan.

~~~~~

Notabene:

Mungkin kau pernah membaca cerita ini di tempat lain, yang kemungkinan besar adalah halaman notes fesbuk-ku. Cerita ini kuikutsertakan di sayembara buku “Where The Mountain Meets The Moon” dari Penerbit Atria, dan ternyata, aku menang, beserta dua orang lainnya (satu temanku, Silvero, satunya belum kenal :p). Download dan baca juga cerita mereka, hitung-hitung untuk mengurangi kesuntukan hari yang panas ini (kalau tempatmu pakai AC, yaaah, untuk mengurangi rasa sumpekmu’lah, atau sekedar nambah inspirasi, misal kau lagi menulis atau buat pe-er).

Ada beberapa perubahan yang kubuat di sini, dibandingkan dengan cerita aslinya. Kuharap versi ini mempermudah kalian membacanya, dan menikmati ceritaku ini :).

Walau tak sempura dan masih perlu banyak perbaikan, cerita ini punya hak cipta, jadi jangan coba-coba meng-klaim isi cerita ini atas nama dirimu / orang lain / organisasimu / siapalah. Kalau kau mau membuat cerita, maka ambillah pena, dan mulailah menulis. Terima kasih.

Anyway,,,seperti yang kukatakan di notes fesbuk-ku, aku akan sangat senang kalau cerita ini bisa membuatmu melupakan “dunia nyata”-mu, atau setidaknya, membawamu pergi dari lingkungan sekitarmu. Duduklah santai, dan nikmati cerita ini  🙂

Oh, maaf, hampir lupa. Selamat Natal dan -terutama- selamat berlibur :D.

Iklan