Ketika aku sedang melihat-lihat dan menyusun-nyusun blog-blog asuhan punya teman-temanku (maafkan perulangan yang berulang-ulang ini), aku tersadar betapa tidak solidernya diriku selama ini.

Maksudnya? Ini dia:

Sudah tiga bulan sejak buku ini bermunculan di Gramedia seluruh Indonesia…dan selama itu pula aku menunggu momen yang tepat untuk membicarakan buku tersebut di dalam blog ini…sampai aku kelupaan.

Memang, ada apa dengan buku itu? Kok kayak penting banget, sampai-sampai musti dapat tempat bahasan di blog ini? *nyodorin jamban buat muntah*

Karena bila buku itu tidak pernah menjadi ada, mungkin blog ini tak akan pernah ada.

Dalam buku itu, ialah dua puluh cerpen fantasi, karya Anak-Anak Bangsa asli, yang punya latar belakang kehidupannya masing-masing.

O.o Serius?

Ya. Betul. Serius. Buku ini produk asli dalam negeri. Lokal sampai ke serat-seratnya. Suwer, bahkan bahasa yang dipakainyapun 100% asli bikinan orang Indonesia! 😀

Dan, alasan yang paling -tidak- penting, kenapa buku ini sedemikian penting untuk dibahas:

Karena di antara cerpen-cerpen tersebut, terdapat satu cerpen karyaku sendiri, yang kuberi judul “Hujan”. Panjangnya 3.000 kata (belum termasuk profil penulis) dan waktu pembuatannya dua hari penuh. Genre? Tentu saja fantasi! Belumkah engkau lihat judul buku yang sampulnya teramat keren itu? (fyi, para desainer cover itu juga salah satu dari kita, Anak-Anak Bangsa).

Jadi, dalam buku setebal kira-kira 180  halaman ini, ada 20 cerpen ber-genre fantasi, yang semuanya berasal dari lomba menulis cerita pendek dengan genre fantasi di http://www.kastilfantasi.wordpress.com. Saat itu aku hanyalah salah satu peserta lomba, yang masih polos dan tak punya pikiran muluk. Keinginanku hanya satu: mendapatkan voucher belanja buku 200.000 rupiah plus paket buku gratis dari penerbit Adhika Pustaka (pada kata lain, mengincar posisi sebagai juara pertamanya :)).

Berbekal inspirasi dadakan tersebut, mula-mula aku menulis sebuah cerita monster-hunter yang mengambil setting dan karakter dari (proyek) novelku sendiri. Hasil jadinya tidak buruk (setidaknya menurutku begitu), tapi panjangnya di luar dugaan. Aku dapat hasil 4.000 kata, dan itu berarti aku harus melenyapkan 1.500 kata untuk memenuhi batas kuota 3.000 kata. Ternyata, selama proses memotong cerpen itu, kudapati diriku sendiri bertanya-tanya sedemikian rupa: apa benar hanya ini saja yang bisa kucapai? Kulirik tanggalan saat itu. Tinggal empat (atau tiga, aku lupa) hari sampai hari terakhir pengumpulan cerpen. Pilihanku sedikit, waktuku sempit. Saat itulah aku mengambil keputusan besar: menyetop total proses editing, dan menulis sebuah cerita baru dari nol lagi.

Aku menulis -hampir- non-stop selama dua hari penuh. Di hari keduanya, aku terbangun 24 jam penuh. Aku tidak membual bila aku mengatakan pada hari terakhir itu aku tidak tidur semalaman. Aku terus menulis dari jam dua siang sampai jam lima pagi. Hanya sekali aku melakukan hal yang sama seperti itu, yaitu saat-saat batas terakhir pembuatan laporan tugas akhir desain grafisku dulu di Palembang.

Kukirimkan cerita itu siangnya, dan sore aku tumbang di atas kasur. Aku tidur tanpa bermimpi sampai pagi tiba.

Siapa sangka, kalau ceritaku itu akan masuk dalam sepuluh besar jajaran cerita terbaik?

Lalu, siapa pula menyangka lebih, kalau sepuluh cerita terbaik itu, plus lima cerita terbaik berikutnya, serta tiga sumbangan cerpen dari para juri, akan terbit dan masuk ke dalam satu buah buku antologi berjudul: “Fantasy Fiesta: Antologi Cerpen Fantasi Terbaik 2010”?

Di balik cover keren itu (sebut saja wanita bergaun hijau itu sebagai Nyi Roro K.), terdapat cerita-cerita fantasi dari 20 pengarang dengan judul cerpennya masing-masing, yaitu:

1. Bocah Serigala dan Isyarat-Isyarat Api, karya Jaladara,

2. Hujan, karya…aah…ku,

3. Candu Aksara, karya Dewi Putri Kirana,

4. Boxinite, karya Mailindra,

5. Aku Hidup Seribu Tahun, karya L. M. R. Pradana,

6. Api, karya Klaudiani,

7. Apollyon, karya Fachrul R.U.N.,

8. Kota Para Penjarah, karya Luz Balthasaar,

9. Sang Pelukis, karya Fredrik Nael,

10. Anak Lelaki dan Si Pengubah Wujud, karya Magdalena M. Amanda,

11. Kerinduan Buku, karya Elbintang,

12. Dewa Laut Istana Camar, karya 145,

13. Moka Si Mobil Jelaga, karya Yuniar K.,

14. Drama Terhebat Yang Pernah Ada, karya Tyas Palar,

15. Rhytma, karya Bonmedo Tambunan,

16. Labirin, karya Aphrodite,

17. Nama Terlarang Di Angkasa, karya Calvin M. Sidjaja,

18. Speak of the Devil: Perangkap, karya F. A. Purawan,

19. Hari Terakhir, karya Erwin Ardiansyah,

20. Matahari Sylvania, karya R. D. Villam,

Beberapa penulisnya memiliki situs asuhan mereka sendiri, yang sebagian bisa kalian lihat pada daftar link situs di dasar halaman ini. Bila kau lagi bosan dan ingin cerita baru untuk menghiburmu…kusarankan kunjungi ini, ini, dan ini. Sementara bila kau penulis (atau mungkin tengah bercita-cita jadi salah satunya), kau pasti akan tertarik ke sini, sini, juga ke sini.

Hmm, mungkin sekalian saja, kuberikan penggolongan spesifik untuk cerpen-cerpen itu. Tampaknya daftar itu tadi agak terlalu biasa, repetitif (iya, mbak, saya malah sudah lima puluh kali melihat daftar yang sama!), dan jelas tampak masih kurang keren…

Karya-karya para pemenang:

–          Candu Aksara, juara pertama Fantasy Fiesta 2010: ide cerita hebat, orisinil, dan bisa membuat seseorang menyesal begitu tahu ia meluputkan cerita semacam ini.

–          Apollyon, juara kedua Fantasy Fiesta 2010: horor, narasi pendek-pendek, dingin, dan bikin merinding; salah satu cerpen yang membuatku tak bisa berhenti membaca sampai ceritanya selesai,

–          Sang Pelukis, juara ketiga Fantasy Fiesta 2010: fantasi murni, tema berat, membuat para pembaca mesti merenung dalam-dalam untuk mencari ‘inti’ cerita ini. Twisted philosophy, psychology, and highly imaginative. I think, this one’s good stuff for epic-fantasy lovers.

–          Kerinduan Buku, juara pertama Fantasy Fiesta 2009: genre unik, ide apik, cerita rumit. Setting kaya imajinasi, dan butuh tiga kali baca untuk bisa mengerti benar isi cerita satu ini.

–          Hari Terakhir, juara kedua Fantasy Fiesta 2009: bahasa asyik, setting keren, *spoiler!* ending tak terduga. Adegan perang luar biasa, karakterisasi oke, dan filosofi terselubungnya amat tidak biasa.

Karya-karya para penilai:

–          Api, karya dari penulis novel Zauri, mengambil iblis lokal (Rangda) sebagai antagonis utamanya.

–          Rhytma, karya dari penulis novel Xar & Vichattan, memilih musik dan tarian sebagai alat sihir yang mematikan, sekaligus juga mampu mencipta.

–          Matahari Sylvania, karya dari penulis novel Akkadia, memberikan final act pada  kisah pengkhianatan, perebutan takhta, kasih sayang, persahabatan, pengorbanan, dan cinta.

Karya-karya para ‘pelengkap’:

–          Bocah Serigala dan Isyarat-Isyarat Api, membuatku ingat kalau gunung asalnya dari lautan, dan kekeras-kepalaan terkadang dapat membuat nyawa melayang sia-sia,

–          Hujan, membuatku sadar mimpi itu ada, dan tak mustahil dibuat nyata,

–          Boxinite, membuatku mempertimbangkan untuk sesekali melepas topeng harga diri, lalu membalas curang dengan curang,

–          Aku Hidup Seribu Tahun, membuatku teringat kembali pada berbagai kisah yang selama ini terus menginspirasiku untuk berkarya,

–          Kota Para Penjarah, membuatku akhirnya bisa memberi kata ‘keren’ untuk pertama kalinya, pada sebuah cerita fantasi karya anak negeri sendiri,

–          Anak Lelaki dan Si Pengubah Wujud, membuatku menggambar sebuah ilustrasi mendetil, yang mungkin takkan pernah ada tanpa pesanan dari penulis cerpen ini,

–          Dewa Laut Istana Camar, membuatku terhibur oleh humornya yang segar dan usia tokoh utamanya yang tidak berada di bawah batas usia Undang-Undang Tenaga Kerja Indonesia,

–          Moka Si Mobil Jelaga, membuatku bernostalgia balik ke zaman ketika masih ada majalah Bobo, dengan nuansa dan gaya berceritanya yang khas,

–          Drama Terhebat Yang Pernah Ada, membuatku tertawa terbahak-bahak pada kenelangsaan Dewa Ares, kenarsisan Dewa Apollo, dan tindak kekerasan Dewi Aphrodite,

–          Labirin, membuatku ingin menaruh karakter-karakterku sendiri ke dalam situasi yang memalukan setengah mati sebelum mereka bermunculan dan membunuhku karenanya,

–          Nama Terlarang Di Angkasa, membuatku penasaran, darimana sebenarnya imajinasi itu berasal,

–          Speak of the Devil: Perangkap, membuatku tahu  kalau iblis juga bisa bergaya, dengan memakai model rambut dreadlock ala predator :).

Mungkin aku lagi kurang kerjaan, atau sekedar overdosis kafein, karena sebenarnya aku telah membuat review lengkap untuk buku ini di goodreads.com. Silahkan sekalian cek di sini kalau masih penasaran apa saja pendapatku, selain yang telah kutulis di blog ini.

Nah, sekarang setelah hutangku telah lunas, dan (semoga) dosaku sebagai “anggota suku buku yang kesetiaannya mulai dipertanyakan” sudah Sang Malaikat Penghakiman coret dan hapus, sisanya tinggal…

ANDA, YANG BELUM PUNYA, SEGERA CARI DAN BELI BUKU INI, SEKARANG JUGA :D.

Terima kasih banyak untuk kalian yang telah (atau akhirnya) membeli buku ini 😉 we hope you’ve (or will) enjoying taking refuge in our fantasy realms, fill those with your own twisted imaginations.

Iklan