Suasana hari relatif cerah walau langit penuh mendung putih. Aku pergi dengan pikiran positif bahwa seluruh langit ibukota saat itu berkondisi cuaca yang sama.

 

Setelah selesai mengantri selama hampir dua puluh menit hingga antrian sepanjang  sepuluh meter berakhir, di halte yang penuh warna orange cerah dari pernak-pernik pakaian para suporter Persija, akhirnya aku mendapat bus yang lumayan legang. Tujuan kebanyakan penumpang nampaknya sama: Istora Senayan, dan Stadion Gelora Bung Karno; halte Polda Metro. Suasana relatif cerah dengan mendung putih masih menutupi langit, sehingga aku tidak khawatir dengan keadaan cuaca di tujuan. Dan aku masih tidak khawatir ketika warna langit yang kami sepenumpang bus tuju tersebut bernuansa abu-abu gelap: warna hujan badai dan awan petir. Warna itu kontras dengan dinding-dinding perkantoran dua puluh lantai yang berkilat putih gading. Kaca depan bus tersebut tidak memiliki lapisan penahan matahari, sehingga pemandangan awan gelap yang melatari gedung-gedung perkantoran pencakar langit itu tampak amat memukau dan luar biasa indah. Aku menyesal tidak membawa kamera untuk memotret pemandangan tersebut. Tapi perasaan sesal itu hanya bertahan sekejap, sebab sedetik kemudian, aku baru sadar tujuan kami berada tepat di bawah langit yang mendung hitam tersebut.

 

Akhirnya, benar-benar terjadi. Warna-warna memudar. Bayang-bayang melebar dan bertambah pekat. Angin berhembus kencang dan menyentakkan dahan-dahan rimbun dari pepohonan dan semak-semak. Warna putih gading berganti jadi kelabu gelap, dan hanya pernak-pernik pakaian para suporter Persija saja yang tampak cerah di tengah cuaca tersebut.

 

Aku berhenti di Polda Metro -hint: jangan turun di halte Gelora Bung Karno, sebab jaraknya ternyata jauh lebih JAUH- dan tak lama kemudian, benar saja, datanglah hujan yang lumayan deras. Jalanan kering dalam sekejap basah oleh milyaran tetesan air dari langit yang penuh mendung gelap. Aku lumayan suka hujan, dan bisa berhujan-hujanan cukup lama tanpa kena masuk angin. Tapi aku jelas tidak mau tiba di tempat tujuan dalam keadaan kuyub seperti kucing tercebur dalam parit– selain tidak etis, aku akan tampak sangat tidak keren. Maka aku membeli payung dari seorang pedagang di jembatan halte, yang dengan antusias menyebutkan angka 20.000 dan 25.000 pada semua orang yang lewat. Aku menelusuri jembatan penyebrangan sambil membuka payungku lebih awal, membuat orang-orang yang terdampar oleh hujan menatapku dengan iri dan kesal.

 

Pohon-pohon di sepanjang trotoar ternyata tidak cukup lebat untuk menjadi perlindungan dari hujan. Lumayan banyak orang yang berjejer sepanjang tangga halte, menunggu langit mengasihani mereka.

 

-intermezzo I-

 

Di jalur keluar busway, aku sempat mendengar seorang anak muda bertanya pada petugas Transjakarta: “Di mana Istora Senayan?”. Pertanyaannya -dan pakaiannya yang nihil dari warna orange- membuatku yakin 99% bahwa ia juga sedang bertujuan ke IBF. Kutawarkan payungku padanya, dan kami pun berangkat bersama ke gedung tersebut. Dengan sedikit usaha dan aksi lompat-melompati kubangan sedalam mata kaki, kami berhasil sampai pada gedung Istora Senayan dalam keadaan relatif kering (minus jaketku dan sepatuku yang malang), dan kami bertemu dengan teman si anak muda yang menunggunya di pintu masuk. Setelah perkenalan singkat dan sedikit basa-basi, kami pun berpisah jalan.

 

Jaketku kuyub, sepatuku seperti spons basah. Ternyata jadi pahlawan yang menawarkan tumpangan payung membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit.

 

-intermezzo I end-

 

Setelah aksi peras-memeras jaket, aku masuk ke dalam gedung.

 

Ah, buku. Bertumpuk-tumpuk buku (dan karton bertuliskan 30% besar-besar di sampingnya) tak pernah gagal membuatku terpesona. Jadi aku segera menjelajah. Buku pertama yang menarik perhatianku adalah serial The Boy Sherlock Holmes karangan Shane Peacock (diskon 30%)– adaptasi dari serial Sherlock Holmes karangan Sir Arthur Conan Doyle yang baru-baru ini mulai aku gandrungi. Namun karena itu adaptasi, aku belum cukup tertarik mencobanya. Maka aku berjalan kembali. Kemudian aku melihat benda menarik di stand penerbit Matahati: dua seri Moribito dan kumcer Wizards yang jatuh harga melebihi 50% harga pasaran mereka!

 

Moribito: guardian-of-the-spirit > 25.000

Moribito: guardian-of-the-darkness > 30.000

Wizards > 19.000

 

Tapi hanya dua buku pertama yang aku beli. Ukuran dan berat buku Wizards membuatku berpikir tiga kali sebelum menentengnya pulang ke rumah. Tak lama berjalan, aku kembali menemukan benda-benda menarik. Di stand Serambi yang agak sepi, aku menemukan ini:

 

Midnight-s-children > 19.000

The-wizard-of-oz > 25.000

 

Yes. Anda tidak salah baca; itu buku Midnight’s Children yang harga normalnya mencapai 89.000. Kutimbang bukunya, hmmm, agak berat. Tapi tak apalah. Aku mengambilnya (maaf, Wizards; salahkan genangan air yang membanjiri isi dalam sepatuku). Sambil melihat-lihat, aku mendapati ada Wizard of Oz pula. Akhirnya kuambil kedua buku itu dan membayarnya di kasir.

 

Bawaanku mulai agak membebani. Tapi bebannya baru terasa lumayan ketika aku menemukan satu ruangan yang tampaknya disewa Gramedia. Di sanalah tempat aku menemukan terget utamaku berada:

 

Abarat I > 40.000

Abarat II > 40.000

 

Sambil berusaha untuk tidak tersenyum terlalu lebar seperti maniak di depan kasirnya, akupun selesai membayarnya dan berkeliling kembali. Selama satu jam kedepan, tidak banyak yang terjadi. Aku hanya berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, melihat-lihat agak lama di stand buku-buku berbahasa asing, dan menanyakan harga komik-komik lama yang ternyata masih dihargai lumayan mahal satunya. (Lucky Luke yang sudah kecoklatan dihargai 20.000-25.000, sementara di pusat gedung tersebut ada buku-buku yang sama yang masih baru dan tersampul rapi, dihargai 30.000 minus diskon 20%.)

 

Di satu tempat penuh buku-buku yang sekilas tampak membosankan (rimba politik dan konspirasi pemerintah dan sarang-sarang koruptor dan bagaimana-negara-ini-semakin-menuju-neraka), aku menemukan buku yang sudah lama kuincar agar mendapat diskon:

 

Harimau! Harimau! > 35.000

 

Kubeli buku itu. Penjual bukunya seorang bapak-bapak yang ramah, dan begitu melihatku membeli buku itu, ia menawarkan buku lain karya Mochtar Lubis yang berjudul “Jalan Tak Ada Ujung”. Ia katakan buku tersebut dianggap sebagai karya terbesarnya Mochtar Lubis. Dan katanya lagi sambil tersenyum, “Besok datang lagi ya, buat beli buku ini!” Aku balas mengangguk sambil balas tersenyum (tapi tidak mengatakan kalau besok aku tidak bakalan datang, kecuali buku-buku belanjaanku ketinggalan di sana), dan mengingat baik-baik judul buku rekomendasinya itu (dengan tulus). Kemudian aku kembali keluar dan berkeliling kembali. Puas menelusuri lingkar luar, aku memutuskan masuk ke pusat gedung. Di tengah-tengahnya ada panggung besar, yang rupanya digunakan untuk acara-acara utama seperti wawancara penulis dan peluncuran buku-buku baru.

 

-intermezzo II-

Sewaktu mendapat berita tentang acara ini, aku menyempatkan diri untuk mencari infonya di internet. Dan dari sana aku mendapatkan info bahwa pada tanggal 17 November, Gol A Gong, penulis serial Balada Si Roy, mengadakan promo adaptasi film bukunya tersebut, dan menawarkan harga diskon besar-besaran untuk serial tersebut (lima buku, normal 240.000 -48.000/pcs-, jadi 160.000 -35.000/pcs-). Jelas, aku langsung tertarik. Tapi lalu aku sadar, itu acara sudah satu minggu yang lalu. Apa tawaran itu masih ada? Spekulasiku, kemungkinannya ada, tetapi kecil: acara peluncuran macam itu biasanya tidak menahan diskonnya untuk acara di kemudian hari. Dan dugaanku benar, aku bertanya pada kasir di mana aku membeli buku ini:

When God Was a Rabbit > 30.000

apakah buku tersebut ada dijual di dekat-dekat sana? Ia menatapku agak kosong dan berkata “Kayaknya judul itu tidak ada di sini.”  

 

Oh, oke deh. Aku membayar buku Rabbit itu dan berjalan pergi dengan agak kecewa. Mungkin di lain kesempatan lagi …

 

-intermezzo II end-

 

Ternyata berjalan dengan sepatu lembab dan jaket kuyub tersampir di bahu dan celana setengah basah memberi efek yang unik.

 

Positif: aku hampir tidak merasa panas maupun pengap. Ketika pulang, di tengah-tengah desakan para penumpang busway yang terlantar dan mengeluhkan hawa panas, aku merasa sangat sejuk dan tidak berkeringat sama sekali. Yah, mungkin orang-orang yang masih berakal waras dan berpikiran sehat akan langsung pulang begitu sepatunya tercebur dalam kubangan pertama. Tapi untuk orang yang nampaknya memiliki pola pikir campuran dari nekat, cuek, dan naif menjurus tak waras, tidak akan begitu mempermasalahkan berkeliaran hampir empat jam dengan seperempat bagian badan basah oleh air hujan.

 

Negatif: persendian dan otot mulai kaku, dan perut mengeluarkan bunyi mengerikan yang biasanya berakhir dengan kunjungan tidak menyenangkan ke toilet rumah maupun umum.

 

Akhirnya, sekitar jam setengah enam, aku memutuskan pulang. Namun dalam perjalanan ke arah pintu keluar, aku malah terjebak di sebuah stand lain. Di sana, aku mendapatkan beberapa buku jadul:

 

Buku-catatan-josephine > 20.000

The-good-earth > 20.000

 

Ditambah bonus komik ini, walau cuma ada nomor satu-nya:

 

Gyo, Vol. 1 > 15.000

 

Aku baru benar-benar pulang sekitar jam tujuh malam. Kukira halte sudah akan sepi, tapi lagi-lagi, ternyata aku salah. Halte Harmoni kembali dipadati warna-warna orange, dan kali ini panjang antrean jalur yang kuambil mencapai 20 meter– antrean busway terpanjang yang pernah kualami selama ini. Aku membaca Gyo sepanjang perjalanan pulang. Kasihan anak itu, yang tertahan duduk di depanku dalam perjalanan panjang yang terhambat macet akibat hujan deras dan weekend-day. (bingung dengan penuturan ini? baca manganya di sini: http://www.mangareader.net/gyo; warning, tidak direkomendasikan untuk yang mudah muntah)

 

Akhir cerita, aku pulang dengan selamat.

 

-intermezzo terakhir-

 

Ada banyak -BANYAK- buku-buku menarik yang mendapat diskon yang begitu sike diberikan toko-toko buku dalam hari-hari normal. Daftar di atas sana adalah salah satunya: 30%, 40%, bahkan ada yang mencapai 70%. Dan banyak buku-buku romance (bukan Harlequin) yang dijual 10.000 satunya. Banyak pula buku-buku anak yang dihargai (paling murah) 5.000 satunya. Tempat itu benar-benar bisa jadi surga untuk anak kecil yang suka membaca dan ingin mendapatkan bacaan-bacaan baru.

 

Dan ada pula satu buku yang membuatku mengernyit dalam-dalam, sebab pendapatku berbeda dengan kebanyakan orang. Has mine eyes deceived me?

 

Aku pernah mendengar tentang buku The God of Small Things (oleh Arundhati Roy), dan membaca sinopsisnya, aku menjadi cukup tertarik dengan buku itu. Namun begitu mencoba membacanya di ruangan penerbit Obor, harus kukatakan … aku kesal dengan hasil terjemahannya. Layout-nya, pilihan font-nya, dan cara menerjemahkannya, menurutku membuat novel itu tampak seperti buku non-fiksi yang isinya terlalu bergantung pada ketepatan teknis. Rasanya hampir tidak pernah aku membaca hasil terjemahan yang mengandung kalimat seperti ini: “Dua Minggu kemudian, Estha Dikembalikan (Returned).” Kenapa ada terjemahan langsungnya di kalimat itu? Kenapa tidak ditaruh di catatan kaki? Kenapa yang lain mengatakan hasil terjemahannya begitu indah sementara aku ingin membanting buku itu begitu membaca bagian tersebut? Apakah itu disengaja? Dan aku tidak mengetahuinya karena terlalu malas membaca kata pengantarnya? #galau #galau #jadigalau

 

Dan selesailah, jurnal perjalanan ke IBF 2012, di tengah ibukota yang dilanda hujan deras. (dan seperti biasa: not quite based on actual events for the sake of fiction writing.)

Iklan